Komunike dari Pemuda Pandang Raya yang melakukan aksi jalan kaki.

Tags

,

MENGHADIRKAN SETIAP KEMUNGKINAN DALAM SETIAP PERJUANGAN.

Selamat siang kawan.

Kami telah berjalan kaki. Mengelilingi kota Makassar. Empat hari tiga malam. Dingin dan panas. Kami tertawa dan saling menghibur untuk luka yang terus kami ingat dan kami bawa dalam perjalanan. Kami tak pernah lupa bahwa kondisi yang kami lalui selama empat hari ini, di jalan-jalan kota makasssar, sama seperti yang dialami oleh warga pandang raya yang berada di tenda biru tempat kami berteduh setelah digusur.

Kondisi ini yang membuat kami terus-menerus bersemangat untuk berjalan kaki. Kondisi ini pula yang terkadang membuat kami mengeluh dan berdebat di sela waktu istirahat di siang hari tentang “apa yang akan kami lakukan setelah ini?”.

Dalam perjalanan. Kami menemukan banyak rupa, banyak mimik, banyak respon dari warga Makassar. Kami mengucap banyak terima kasih pada pengguna jalan yang telah ikut berpartisipasi. Untuk para mahasiswa yang menyambut hangat kami dan membawa kami berkeliling di kampus mereka, kami ucapkan terima kasih dan selalu bangga atas sambutan kalian. Setidaknya kami sadar, walau tak pernah berkuliah, bahwa kampus sama seperti Negara ini, ada banyak respon, sama seperti jalanan. Ada yang menyambut hangat, ada yang tak mau menerima selebaran, ada yang tersenyum, dan bahkan ada yang memandang sinis. Tapi toh kami masih tetap berjalan walau dengan kaki pincang karena kelelahan.

Beberapa dari kami mengatakan “ternyata saya bisa menyelesaikan aksi ini”. Jika mengingat kembali perbincangan awal sebelum melakukan aksi ini, kebanyakan dari kami bahkan ragu dengan kekuatan fisik dan mental yang kami miliki. Namun segalanya bisa berubah, segala kemungkinan, segala ketakutan akan hancur ketika kita mau mencobanya.

Mencoba adalah hal yang akan menghadirkan banyak kemungkinan dan menghancurkan mitos tentang “tak bisa”.

Untuk para paritisipan solidaritas yang tergabung dalam tim, kami juga sangat berterima kasih. Mereka yang menyiapkan konsumsi untuk kami santap, mengabarkan terus-menerus tentang kondisi kami lewat media sosial, menyebarkan info lewat sms pada kawannya, membawakan kami tenda untuk digunakan saat waktu istirahat tiba, hingga menemani kami tertawa, mengajak kami bercerita, bahkan menemani kami berjalan ataupun sekadar datang di tenda tempat kami istirahat dan ikut tertawa dan mendengar cerita kami. Kami bangga pada kalian, kawanku.

Kami terluka kawan, namun tak akan pernah lupa untuk terus mengobati luka kami. Kami merawat luka ini dengan baik. Menyembuhkannya dan takkan menghilangkan bekas.

Beberapa dari mereka mungkin bertanyadan member komentar; untuk apa aksi seperti ini?, mengapa mereka tak menggunakan saja kendaraan untuk berkampanye?, apa tujuan dari aksi yang memakan banyak biaya untuk memfoto copy selebaran hingga 18. 600 lembar dan memeras sangat banyak tenaga? Atau bahkan sampai komentar sinis tentang aksi yang kami lakukan adalah aksi yang sangat mainstream dan hanya bertujuan agar diliput di media-media mainstream.

Kami telah mengabarkan rencana aksi kami 6 hari sebelumnya, kami mempersiapkan setiap hal yang kami butuhkan dan mengobrolkan pada partisipan solidarits yang lain. Karena kami sadar bahwa kami tak bisa melakukan beberapa hal secara bersamaan dan membutukan sebuah tim untuk menunjang kampanye kami demi memperluas isu yang kami usung bersama.

Kami memilih berjalan tentu dengan beberapa pertimbangan dan segala konsukuensinya yang telah kami pikirkan sebelumnya. Kami memilih berjalan karena dengan berjalan kami bisa menyebarkan isu ini dengan cukup efektif dibanding menggunakan kendaraan yang lebih memakan banyak biaya dan akan tidak efektif jika melihat kondisi kota Makassar yang semakin dipadati kendaraan.

Selebaran yang kami bagi adalah salah satu strategi penting untuk menunjang isu agar diketahui banyak warga walaupun tak seberapa dengan jumlah warga Makassar yang jauh lebih banyak. Setiap warga mesti mengetahui kondisi kami, bagaimana kami berjuang, dan apa yang kami perjuangkan. Sebab dengan berteriak saja menurut kami kurang efektif dibanding berjalan kaki dan menyebarkan info lewat selebaran, sms, dan jejaring sosial media.

Kami memang berharap aksi kami diliput oleh banyak media, baik media mainstream, media yang dikelola organisasi kampus atau media independen. Namun, kami tak sepenuhnya bergantung pada itu semua, sebab kami percaya bahwa dengan turun langsung mengabarkan kondisi kami pada setiap warga akan berdampak langsung dan akan melihat langsung kondisi kami yang berjalan kaki tanpa kebohongan dan bisa langsung berkomentar dan kami dengar.

Semenjak 12 september lalu, kami masih tetap berjuang, bukan sekadar slogan “Pandang Raya Belum Kalah” “Pandang Raya Takkan Menyerah”, bukan! Ini adalah kenyataan, sebuah realitas. Bukan sekadar slogan.

Ini belum berakhir, perjuangan kami sebagai pemuda tidak sampai di perjuangan berjalan kaki “mecari keadilan”. Masih banyak yang mesti kami lakukan demi mendapatkan kembali tanah dan kehidupan kami. Kami mesti berjuang untuk menduduki tanah kami yang sudah mulai dipasangi beton hari ini, karena jika menunggu kebaikan hati pemerintah, mungkin akan berlangsung lama, atau mungkin saja tak akan terjadi dan pada akhirnya bekas puing rumah dan tanah kami akan digantikan oleh bangunan tinggi yang bercokol dengan kuat. Kami mesti melakukan pengorganisiran pemuda lainnya, mengikuti pertemuan antar warga, pertemuan dengan para partisipan solidaritas, dan masih akan bayak belajar dari banyak pengalaman-pengalaman yang bisa menjadi pelajaran penting untuk perjuanga kami dan warga lainnya.

Akhirnya, kami mesti kembali berjuang. Mengumpulkan tenaga, menyiapkan strategi, membangun solidaritas, dan menjaganya agar tetap membara dan menyebar ke sitiap penjuru dunia. Kami yakin, kami tidak sendiri. Kami mesti melakukannya sekarang, bukan menunggu, mulai sekarang.

Salam hangat dari kami,

Pemuda pandang Raya.

Tenda perjuangan 24 oktober 2014.

Kayuhan sepeda dari bocah pencari keadilan

Tags

, , , , , , ,

Catatan dari salah satu partisipan solidaritas dari aksi jalan kaki Pandang Raya keliling Makassar mencari keadilan

DSC_0246

Nafasku tersengal-sengal, oktober kering sial ini membuatku mengutuk kota bahkan debu. Kuikuti saja para pemuda Pandang Raya yang melakukan aksi jalan kaki mengelilingi Makassar itu, kubantu seadanya karena kemampuanku hanya sampai menuliskannya. Semua respon menolak ketidakadilan harus diberitakan. Dan salahlah saya jika hanya serentetan kata saya tak mampu rangkai untuk mereka.

Sementara itu Haerul bocah 12 tahun yang masih menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Pertama, yang juga rumahnya kena bongkar sebulan lebih lalu di eksekusi Pandang Raya, mengayuh sepeda tanpa keluhan. Cemburu mengikut kutukan dalam hati.

Dia bercerita datar tentang sepedanya yang tak pernah sekalipun mandek selama mengikuti aksi berjalan kaki Pandang Raya. Kuketahui dari obrolanku dengan dia bahwa tak ada masalah jika ia harus meninggalkan sekolahnya selama dua hari demi “keadilan”. Bahkan ijin dari orang tuanya sudah dia pegang.

Kuperhatikan kayuhan sepedanya yang tipis dari balik spanduk “Pandang Raya Mencari Keadilan”, teringat seorang bocah yang sama di suatu tempat yang berbeda. Bocah-bocah serupa dengan sifat kanak-kanaknya tanpa dengki sangatlah kuat menurutku jika mampu mengarahkan amarahnya di titik yang mampu dia jangkau.

Penggusuran Pandang Raya tanggal 12 September 2014 lalu mengakibatkan banyak kepiluan. Salah satu sekolah untuk anak TK didalam lingkungan kampung Pandang harus rela diratakan dan semua anak yang masih sekolah bahkan memakai baju biasa ke sekolahnya karena semua baju seragamnya hilang di hari eksekusi.

Bercerita seorang ibu dari anak yang kehilangan baju seragam sekolahnya juga, bahwa ia harus bertengkar akibat tak adanya pengertian dari pihak sekolah perihal baju seragam. Yang mengagetkan adalah teman sekelas dari beberapa bocah di Pandang Raya melakukan aksi pengumpulan sepatu bekas, baju bekas untuk dipakai sementara teman mereka yang menjadi korban penggusuran. Anak kecil memang sangatlah besar dengan postur tubuh yang kecil dan kepolosan hatinya. Kecemburuanku bertambah.

Haerul, bocah Pandang Raya yang bersepeda bersama pemudanya yang berjalan mencari keadilan mungkin tak begitu tahu secara dalam mengapa aksi berjalan kaki ini diadakan. Tapi dia tak ragu untuk menempuh segala hal demi ikut nimbrung bereaksi atas nama rumah dan kawan-kawan sekampungnya.

Dari hari pertama sampai hari terakhir kamis 23/oktober/2014 sore ini, pejalan kaki plus haerul yang bersepeda masih saja mampu menjawab setiap pertanyaan dari media yang berdatangan, bahkan masih saja ada candaan yang terlontarkan. Semuanya membuktikan semangat yang tak luntur dari perbatasan Maros-Makassar sampai Gowa-Makassar hingga kembali ke posko warga di Pandang Raya.

Sore hari, kami tiba di posko dengan rombongan Mahasiswa yang bersolidaritas. Sepeda kecil berwarna krem kuning kusam yang bannya terlihat tipis itu kulihat bersandar di tiang samping posko Pandang Raya. Kucari bocah itu, tak ada, mungkin dia baru merasa lelah. Cemburuku mulai mereda, karena semangatku kali ini mulai tumbuh.

Cemburuku pada samudra yang menampung segala, cemburuku pada ombak yang selalu bergerak hampir sama dengan cemburuku pada Haerul, bukan karena saya tak bisa mengayuh sepeda dari kecil tapi karena dia telah berhasil mengukur jalanan Makassar dengan semangatnya dan marahnya yang kanak-kanak.

Dari posko Pandang Raya, kutuklah penggusuran dan rangkailah kekuatan demi melawan segala ketidakadilan.

Pandang Raya mencari keadilan

Tags

, , , , , , , , ,

Reportase hari kedua

Berangkat dari taman Sermani yaitu titik jeda hari kemarin beristirahat malam untuk lanjut esok harinya, Pemuda Pandang Raya bersiap-siap akan melanjutkan jalan kaki ke rute-rute yang telah ditentukan. Rencananya mereka akan berhenti sementara di titik jeda kedua yaitu di daerah Pantai Losari.

Berikut adalah catatan waktu dan tempat yang sempat tercatat dari perjalanan hari kedua selasa/21/oktober/2014 yang kami dapat dari Tim support yang ada di lapangan.

Pukul 07.15 : Peserta aksi mulai longmarch dari taman Sermani Steel.
07.25 : Peserta aksi berhenti di depan Taman makam pahlawan untuk bentang spanduk dan bagi-bagi selebaran.
07.30 : kembali berjalan kaki
07.45 : Berhenti di depan Asrama Polisi Panaikang untuk bentang spanduk dan membagi selebaran
07.55 : Kembali melanjutkan perjalanan
08.10 : Berhenti di pelataran Mesjid Baiturahma untuk beristirahat sekaligus menuggu persiapan penyambutan dari Mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI)
09.09 : melanjutkan perjalanan menuju UMI
09.27 : Tiba di UMI
09.30 : Mulai melakukan aksi keliling kampus UMI
09.40 : Kawan-kawan dari UMI mulai berorasi keliling kampus
10.00 : Peserta aksi beristirahat di sekretariat UPPM UMI
13.00 : Tim Logistik datang membawa makanan dari mulai santap siang
13.34 : kembali melanjutkan jalan kaki meninggalkan kampus UMI
13.58 : Tiba di Flyover sambil membentangkan spanduk dan bagi-bagi selebaran
14.43 : Salah satu Pemuda Pandang Raya yang ikut aksi berjalan kaki jatuh sakit dan terpaksa dipulangkan ke tenda
14.46 : Melanjutkan jalan kaki
15.10 : Istirahat di jln.Maccini

Kami tiba terlambat dan telah mendapati pejalan kaki telah istirahat di daerah jln. Maccini. Dari sini kami bisa gambarkan langsung kondisi para pejalan serta situasi pendukung disekitaran mulai dari jalanan hingga para penggunanya.

Dari hasil obrolan singkat kami dengan salah satu Tim support yang ada di lapangan, kami mendengar situasi aksi sejak pagi hingga kami datang itu hampir sama dengan situasi di hari pertama. Yang sedikit berbeda adalah model aksi mahasiswa di kampus UMI yang lebih agitatif. Serta jatuh sakitnya seorang peserta aksi dan harus dipulangkan ke tenda Pandang.

Dari jln.Maccini kami lanjut berjalan kaki ke jalur-jalur pantai dan perhotelan. kami sempat beristirahat di hotel singgasana dan taman Macan Di taman macan, peserta aksi dan Tim support melakukan bentangan spanduk serta membagi selebaran.

Setelah melakukan aksi kecil-kecilan di taman macan, peserta dan Tim melakukan rembuk dan bersepakat akan beristirahat untuk hari kedua ini. Aksi akan dilanjutkan esok harinya.

Dari depan Benteng Rotterdam, titik istirahat rute hari kedua. Semoga masih bersemangat.

#SavePandang

#PandangRayaMencariKeadilan

Pandang Raya Mencari Keadilan

Tags

, , , , , ,

Pandang Raya mencari keadilan.
Reportase hari pertama.

Karena setiap tindakan respon penolakan atas semua keterhinaan, ketertindasan, kemelaratan dan ketimpangan mesti disuarakan. Tugas kami dari tim support dalam hal ini yang bertugas menyebarkan info adalah bersuara untuk menyusun tiap suara agar setiap orang mampu bersuara.

Sebulan lebih berada di tenda paska eksekusi membuat pemuda Pandang Raya gerah, kepercayaan atas solidaritas sesama wargalah yang membuat mereka tidak putus asa, maka inilah aksi mereka. Berjalan kaki adalah pilihan metode yang mereka ambil dan berharap warga Makssar selain harus tahu kemarahan mereka, juga ikut merangkul tangan. Dan dari Support di lingkaran solidaritas menyatakan dukungan karena jika ia tak diberitakan maka kami akan merasa bersalah. Inilah catatan kami dari rute terakhir di hari pertama.

Telah ditentukan rute perjalanan, yaitu melewati jalan-jalan protocol dari ujung perbatasan Maros-makassar hingga perbatasa Gowa-Makassar kemudian berputar kembali ke Pandang Raya.

Pukul Sembilan pagi kami yang tergabung dalam Tim penyebar info aksi sedikit telat tiba di titik berkumpul yang sempat kami singgahi, kami juga rencana akan bergabung di barisan pejalan kaki ini sebagai support langsung. Sebelumnya Sembilan pemuda telah bersiap-siap di titik awal di perbatasan Maros-Makassar tepat pukul enam pagi berangkat dari Pandang raya dengan diantar warga lainnya yang memilih posisi bersiap support logistic di posko tenda Pandang raya.

Empat jam perjalanan dari titik awal sampai di titik yang kami jumpai mereka bercerita dengan kelakar ala pemuda Pandang, bahwa mereka sangat bersemangat, bahwa telah ada tiga media yang meliput perjalan awal mereka. Kasim seorang pemuda yang berposisi sebagai Humas telah berulangkali menceritakan lelucon tentang perjalanan mereka. Mereka berburu canda walaupun Tim medis yang sebelumnya telah dihubungi tidak bisa mengikut berjalan, mereka saling mengobati luka dan kekakuan sendi dan urat kaki yang menegang karena rute perjalanan yang lumayan panjang.

Pukul sepuluh barisan lanjut berjalan setelah beristirahat. Pemuda yang berjalan dengan memikul spanduk dan mengangkat petaka ini tidak hanya berjalan saja, mereka membagikan selebaran pernyataan aksi. Hingga para pengguna jalan dan orang-orang yang kami lewati merespon Tanya dan pernyataan yang mungkin saja bisa menjadi ukuran tersendiri apakan aksi ini mencapai target atau tidak. Tidak lama setelah itu barisan pejalan kembali istirahat, hembusan asap rokok dan potongan buah hadiah dari seorang kawan yang bersolidaritas menjadi cemilan segar pengantar peluh yang sudah membaui ketek.

Jalanan semakin ramai, tersampaikan kabar bahwa mahasiswa dari Universitas Hasanuddin telah bersiap-siap menyambut kedatangan mereka dan juga akan ikut berpartisipasi dengan mengajak berkeliling kampus sembari membagi selebaran.

Istirahat pendek dengan guyonan tentang ada tidaknya sumber mata air di derah takalar membuat kami mengingat kembali hasil diskusi bertema MP3Ei kemarin, bahwa bukan hanya Pandang Raya saja yang tergusur, pedalaman kampung Polombangkeng Takalar terancamn akan dirampas oleh perkebunan kelapa sawit sementara petani disana saat ini selalu saja diancam dengan senapan karena kasus perampasan tanah mereka oleh PTPN.

Lanjut berjalan kaki pukul 11.09 siang, barisan aksi tetap membagi selebaran, mereka mendatangi bengkel-bengkel, tempat mangkal ojek dan juga warung-warung bahakn SPBU yang dilewati. Ada banyak orang-orang yang melontarkan pertanyaan, ada juga yang antusias meminta penjelasan tentang isi selebaran dan isi spanduknya, bahkan juga kawan-kawan yang mendapat info di media social dan sebaran sms sengaja mendatangi langsung di rute-rute yang sempat mereka singgahi. Seorang teman Punk bahkan meminta lebih banyak selebaran untuk mereka bagikan di scenenan mereka.

Pukul 11.40 siang barisan aksi telah sampai di pintu dua Unhas dan disambut oleh beberapa mahasiswa gabungan dari Unhas bersatu terdiri dari Bem-bem yang ada di kampus Unhas. Mahasiswa gabungan dari Bem dan Organ seUnhas ini setelah mengajak sitirahat makan siang, mereka mengajak barisan aksi untuk berkeliling berkampanye dengan menyebar selebaran dan mendatangi tiap sekretariat organ internal kampus dari fakultas Hukum, Sastra, Ekonomi, Baruga, MIPA dan berakhir di kafe-kafe kampus.

Keliling kampus Unhas memakan waktu dan energy yang banyak, barisan aksi dan Tim support mulai kelelahan. Istirahat dimulai pukul 02.39 bertempat di danau Unhas. Rute terakhir untuk hari ini adalah menyelesaikan rute Perintis hingga tembus Urip.

Kampus yang disinggahi yang masuk dalam rute terakhir adalah Stmik Dipanegara, namun karena kami tiba pukul lima sore, kami tidak maksimal kampanye dalam kampus. Mahasiswa gabungan dari Stmik Dipanegara dan Stmik Akba yang menyambut barisan dengan menawarkan istirahat serta bagi selebaran semaksimal mungkin.

Menjelang magrib kami berjalan lagi hingga ke titik istirahat yang telah ditentukan. Jalanan Urip yang menjadi titik paling rawan macet ini menjadi tawaran menarik tersendiri bagi pemuda yang memang menargetkan untuk kampanye kasus.

Akhirnya pada pukul setengah tujuh malam, kami telah membangun tenda dan menggelar matras untuk beristirahat. Makan malam, evaluasi hari pertama dan saling bertukar rasa dari para pemuda Pandang dan Tim support menjadi penutup catatan ini.

Atas nama semesta, demi korban-korban penggusuran di tiap titik di Makassar, karena kekuatan kaki dan kebesaran hati, bersemangatlah.
Untuk kalian dimanapun berada, ambil peranlah, setidaknya menyebarkan info ini ke semua orang.

Dari Taman Sermani Steel.

#savepandang
#pandangrayamencarikeadilan

Pernyataan sikap Warga Pandang Raya (Penggusuran Yang ke-4, Jumat 12 September 2014)

Aliansi Masyarakat Anti Penggusuran (AMARA) Pandang Raya

Penggusuran ada dimana-mana. Atas nama penegakan hukum, keindahan kota, ketertiban masyarakat, dan segala bentuk pembenaran versi penguasa seolah menjadi  hal yang wajar dari rutinitas keseharian kita. Sekalipun substansi dari kasus penggusuran tersebut adalah perampasan terhadap hak hidup yang sangat mendasar seperti yang terjadi dalam kasus warga Pandang Raya. Warga masyarakat miskin kota yang bertahan hidup dipusat perkotaan diantara himpitan bangunan-bangunan komersil milik korporasi harus berhadapan dengan keserakahan para pemodal yang tak henti-hentinya berupaya merebut ruang-ruang yang masih tersisa untuk disulap menjadi pundi-pundi rupiah.

Kasus Pandang Raya bermula ketika pada tahun 1998 seorang pemodal a.n. Goman Wisan tiba-tiba menggugat warga dan mengklaim kepemilikan atas tanah seluas 4000 m2 yang dihuni 46 KK. Proses hukum yang timpang dan tidak berimbang menyebabkan warga diharuskan menerima vonis hukum yang prosesnya tak pernah mereka ketahui. Eksekusipun berulangkali dilakukan oleh pihak pengadilan. Eksekusi ke-1 pada 12 november 2009, eksekusi ke-2 pada 30 November 2009 dan eksekusi ke-3 pada 23 Februari 2010. Setiap eksekusi yang dilakukan selalu mengalami kegagalan karena proses putusan pengadilan yang cacat.

Ada beberapa poin tentang mengapa tanah warga Pandang Raya tak dapat dieksekusi:

  1. Lokasi yang diklaim oleh pihak penggugat (Persil No. S2 a. SII Kohir No. 2160. C 1. Lokasi Jalan Hertasning Kelurahan Panaikang Kecamatan Panakukang) berbeda dengan Lokasi yang di huni oleh warga yang menjadi tergugat/objek eksekusi (No. Persil S2S1 Kohir 1241C1 Kelurahan Pandang Kecamatan Panakukang). Dan diperkuat oleh surat keterangan Kantor kelurahan Pandang yang ditandatangani oleh lurah terkait (Dakhyal S.Sos) tertanggal 5 Agustus 2009 dengan menyatakan bahwa lokasi yang dimaksudkan berdasarkan Persil dan kohir penggugat (Goman Wisan) berada diantara Jln. Adiyaksa dan Jln. Mirah Seruni (Panakukang Square).
  2. Pernyataan dalam surat Keterangan oleh camat Panakukang tertanggal 16 Desember 2009  yang ditandatangani oleh camat terkait (A. Bukti Djufri, SP, M.Si) dengan menyatakan bahwa Lokasi pihak penggugat (Goman Wisan) tidak ada dalam buku F di kantor kecamatan Panakukang dan persil Kohir warga berbeda dengan apa yang menjadi objek eksekusi pihak penggugat.
  3. Klaim Pihak penggugat (Goman Wisan) yang telah melakukan pembelian dan pengukuran tanah bersama pemilik (A.n. H. Abd. Asis Bunta) ditahun 1994 adalah palsu. Karena pemilik tersebut telah wafat ditahun 1993 yang dibuktikan dengan surat kematian A.n. H. Abd. Asis Bunta dari kelurahan Nunukan Barat yang merupakan kediaman pemilik tanah.
  4. Surat pernyataan kepala BPN A.n. H.M. Natsir Hamzah, MM. tertanggal 28 Desember 2009 yang membenarkan dan menguatkan surat keterangan dari kelurahan Pandang.
  5. Surat rekomendasi KOMNAS HAM No.727/K/PMT/III 2010 tertanggal 30 Maret 2010 yang meminta Mahkamah Agung RI untuk menindaklanjuti laporan dari LBH Makassar sebagai kuasa hukum AMARAH atas indikasi kesalahan dalam penentuan objek eksekusi.
  6. Fatwa Mahkamah Agung No. 262/PAN:/145/C/10/FK.PERD tertanggal 20 April 2010 yang meminta PN Makassar selaku eksekutor tanah warga Pandang Raya untuk memperjelas lokasi/objek eksekusi yang dianggap salah alamat oleh penasehat hukum tergugat. Namun rekomendasi tersebut belum dilaksanakan oleh PN Makassar hingga keluarnya surat eksekusi yang ke-4 pada tanggal 12 September 2014.

Berdasarkan fakta tersebut maka warga Pandang Raya bersama kelompok masyarakat sipil yang tergabung dalam AMARA menyatakan sikap “menolak penggusuran tanah warga Pandang Raya”. Melawan penggusuran bukan hanya soal berebut tanah apalagi tawar menawar harga, tapi ini tentang bagaimana hak-hak warga miskin kota dipertahankan dan keadilan ditegakkan. Tergusurnya tanah mereka akan menjadi bukti bagaimana aparatus negara dari kepolisian, kejaksaan, Pengadilan, dan birokrasi pemerintahan yang lain ternyata tak berdaya menghadapi belenggu modal. Maka mari bersama bersolidaritas untuk melawan penggusuruan tanah warga Pandang Raya.

“Tanah tuhan untuk rakyat bukan untuk pemodal”.

Pandang Raya Takkan Menyerah

jernih

Tanah Pandang Raya telah diratakan dengan tanah pada jumat (12/9) kemarin dengan tiga eskavator oleh 700 pasukan brimob, puluhan preman dan dua water cannon yang diturunkan oleh Pemkot Makassar atas sokongan seorang pengusaha bernama Goman Wisan.

Saat ini korban penggusuran tinggal di tenda darurat bersama harta benda yang sempat mereka selamatkan. Mereka masih bertahan bersama dan membangun dapur umum. Mereka membutuhkan bantuan berupa bahan makanan, obat-obatan, dan bahan logistik lainnya.

Untuk menyalurkan bantuan bisa langsung mendatangi lokasi atau menghubungi contact person, Bunga 082393632309 Maula 085299668047. Bagi yang ingin berdonasi juga bisa mengirimkan bantuannya ke nomor rekening BNI 0151766006 a.n Bungawali Nurhidayah atau 0159058256 a.n Hafsani.

Berikut link video dokumenter Menolak Tergusur http://www.youtube.com/watch?v=MVLfDqYiZZg

Video penggusuran pada Jumat, 12 September 2014 http://www.frequency.com/video/tolak-digusur-warga-makassar-bentrok/192969033?cid=5-191

Video upaya penggusuran beberapa tahun lalu http://www.youtube.com/watch?v=Fv15BLM-lCU

Panjang Umur Solidaritas!

Penyerangan dan Kekerasan aparat terhadap warga Pandang Raya – 25 Maret 2013

Image

ImageImageImage

( Gambar dikumpulkan dari berbabagi sumber : Media)

Gambar diatas adalah bukti, yang dengan jelas memperlihatkan bagaimana tindak kekerasan aparat polisi terhadap warga Pandang Raya. Anehnya, pemberitaan media-media seringkali  menyudutkan perjuangan dan memutarbalikkan fakta dengan menuduh mereka sebagai pemicu bentrok.

 

Terus berjuang Pandang Raya, Solidaritas akan selalu ada…

 

Perang Pandang (Catatan perjuangan pandang raya – 25 Maret 2013)

 

545360_481557085227414_883425047_n

Sejak 2009, diawalinya sebuah perang terbuka menghadang perampasan tanah, di Pandang raya, teror modal, masih menghantui di sepanjang perjalanan perjuangan warga pandang raya hingga saat ini.

Tidak hanya menggunakan alat represi negara, kekuatan modal pun menggunakan preman sebagai alat meneror dan merampas langsung tanah milik warga.

Sejak sebulan kemarin, preman telah beberapa kali datang meneror warga. Setelah rumah seorang warga di pandang raya dikuasai oleh preman sebagai akibat dari melemahnya merosotnya perjuangan politik warga pandang raya yang membuat seorang warga tersebut memilih menyerahkan rumahnya untuk di kuasai oleh preman bayaran.

Sejak awal preman itu menempati rumah salah seorang warga tersebut, warga belum memutuskan mengambil langkah mengusir preman tersebut. Ketergantungan terhadap pemerintah setempat membuat warga belum dapat mengambil keputusan sendiri. Tetapi setelah dibangun konsolidasi rutin, warga akhirnya mengambil keputusan menduduki rumah tersebut dan mengalihkannya menjadi posko perjuangan.

Setelah pendudukan beberapa minggu, preman bayaran yang sebelumnya mendiami rumah tersebut juga berhasil diusir warga bersama beberapa orang partisipan perjuangan pandang raya. Beberapa kali preman mencoba untuk masuk kembali dengan berbagai alasan, bahkan pernah sekali salah serang preman datang membawa istri dengan anaknya, namun upaya preman tersebut kembali digagalkan oleh warga.

Kedatangan berikutnya, preman datang dalam jumlah belasan orang. Kedatangan preman membuat gelisah warga. Konsolidasi informal berlangsung, Warga yang mulai gerah dengan intimidasi kemudian melakukan perlawanan. Mereka berusaha mengusir preman hingga akhirnya terjadi aksi saling serang antara warga bersama partisipan perjuangan pandang raya melawan preman. Penyisiran preman di lokasi warga pun pun di lakukan, serangan demi serangan di bangun, preman tidak berkutik dan lari kocar kacir.

Setelah serangan terhadap preman dibangun warga, polisi yang tiba-tiba datang dengan kendaraan patroli mendekat kerumanan warga yang telah mengusir preman. Intimidasi psikologis pun di lakukan polisi, namun intimidasi  ini dibalas warga dengan serangan batu ke arah mobil patroli polisi. Aparat makin represif dengan  menyerang tembakan dan melakukan penangkapan terhadap warga. Di lengkapi dengan senjata api, beberapa intel polisi yang berada di sekitar lokasi menembakkan senjatanya ke udara, bahkan sempat mengeker tubuh warga.

Hasil pengejaran polisi membuat 23 orang warga dan partisipan ditangkap, mereka juga mengalami kekerasan fisik akibat Hantaman palu, senjata, dan sejumlah pukulan dan tendangan yang terus menghujam tubuh warga dan partisipan.

Kemarahan pun berlipat setelah serangan preman dan polisi di pandang raya, terlebih setelah penangkapan dan penganiyayaan polisi terhadap pejuang yang tertangkap.

Keputusan memblokade ruas jalan diputuskan, sebagai upaya menghadang ancaman polisi dan preman yang mencoba kembali masuk melakukan penyerangan terhadap warga, sekaligus sebagai bagian dari tekanan politik warga untuk membebaskan 23 orang pejuang yang ditangkap.

Saat petang menjelang, sekitar puluhan intel polisi yang tersebar di beberapa lorong di pandang raya sempat mengejar dan menyerang tembakan, tetapi serangan tersebut berhasil digagalkan oleh kejaran yang di lakukan warga. hujaman batu dan serangan balik di bangun warga untuk mengusir intel tersebut. Dendam dan kebencian yang dipupuk pejuang pandang raya  melawan ancaman kekerasan beserta penggusuran memberi energi kepada bambu, balok, dan batu yang memenuhi sepanjang jalan yang di blokade warga.

Hingga malam tiba ratusan warga yang tumpah ruah di jalan, menanti perang yang kembali mekar. Sekitar pukul 7 malam, lampu di areal pandang raya tiba-tiba saja padam. Kondisi tersebut memaksa warga menyisir kembali kampungnya demi memastikan tidak ada musuh yang menyusup dan menyerang warga secara diam-diam.

..

Sementara itu, di Polrestabes dimana 23 orang yang ditangkap kembali mendapatkan teror dan serangan fisik dari preman.  Sebagaian mengalami luka akibat pukulan dan hantaman benda tajam di bagian wajah dan kepala. Preman leluasa masuk dan mengintimidasi langsung 23 pejuang di ruangan penyidikan polrestabes memperkuat indikasi dengan kesaksian warga, menunjukan bahwa polisi dan preman sangat dekat. Bahkan ada seorang warga yang ditangkap mengakui melihat polisi diberikan uang oleh seorang kepala preman yang memimpin penyerangan di pandang raya. Beberapa kawan yang ingin menemui warga dan kawan yang ditangkap juga dihalangi-halangi masuk.

Pendampingan hukum bagi 23 orang ditangkap kemudian diupayakan melalui koordinasi dengan LBH. Dari hasil komunikasi dan negosiasi pengacara LBH bersama pihak Polrestabes, dan didapatkan informasi bahwa warga dan kawan orang yang ditangkap dapat segera dibebaskan pada malam tersebut. Pada pukul 22.00 Wita, Setelah menjalani proses pemeriksaan ke 23 orang tersebut dinyatakan bebas, namun pada saat mereka ingin meninggalkan polrestabes, puluhan preman yang berjaga di gerbang menghalang-halangi serta terus melakukan intimidasi bahkan mengancam ingin menikam jika mereka keluar.

Akhirnya, warga dan kawan harus kembali ditahan, dan informasi dari LBH mengatakan bahwa mereka baru bisa keluar besok pagi jika situasi atau preman  tidak lagi berada di polrestabes. Terbaca, bahwa terdapat skenario antara polisi dan preman  untuk menjerat warga dan kawan yang ditangkap. Hal ini terlihat saat polisi membiarkan preman leluasa melakukan teror, intimidasi dan kekerasan fisik kepada warga dan kawan-kawan.

..

Esok Pagi, 26 maret 2013. Warga dan kawan-kawan yang ditangkap belum juga dibebaskan. Pesan singkat dari seorang kawan yang ditahan menyampaikan bahwa pihak kepolisian juga menghalangi mereka keluar.

Situasi ini mendapat respon keras dari warga pandang raya yang masih terus siaga dan memblokade jalan. Konsolidasi dilakukan warga dan partisipan solidaritas Pandang raya. Pihak LBH yang juga berada di lokasi belum dapat memberikan informasi dan langkah bagi 23 orang warga dan kawan yang ditangkap. Hal ini membuat situasi yang memanas, karena warga mengharapkan adanya upaya hukum yang cepat bagi mereka yang ditangkap.

Situasi ini memaksa warga bersama partisipan yang bersolidaritas meipatgandakan kekuatan dengan jumlah yang besar untuk mengerahkan kekuatan memadati polrestabes dan menghadapi preman yang meneror 23 pejuang yang ditangkap. Sejumlah warga dan partisipan lainnya kembali memenuhi jalan dan  mengkonsolidasikan kembali kekuatan untuk mengawal pembebasan 23 pejuang yang ditangkap. Akhirnya diputuskan untuk memperkuat kembali tekanan di jalan yang di blokade, seorang polisi yang mendekati barikade dikejar dan lempari warga, yelyel teriakan tak padam selama dua hari berlangungnya blokade.

Lambatnya proses hukum juga membuat warga dan partisipan solidaritas pandang raya terus mendesak adanya pendampingan hukum bagi ke 23 orang yang ditangkap. Desakan kepada LBH kembali dilakukan. Karena bagi warga, pendampingan hukum adalah hak yang patut mereka dapatkan terlebih atas perjuangan untuk mempertahankan hak hidup.

Pada pukul 16.30 Wita, LBH kembali mendatangi Polrestabes dan melakukan negosiasi dengan pihak kepolisian. Setelah mengisi lembar perjanjian dari pihak polrestabes, ke 23 warga dan kawan yang ditangkap akhirnya dapat keluar. Untuk mengantisipasi adanya intimidiasi preman seperti yang terjadi sebelumnya, warga melakukan pengawalan dengan menjemput dan mengawal keluarnya ke 23 orang yang ditangkap.

Atas desakan, kekuatan kekuatan warga dan solidaritas ke 23 orang dapat kembali ke Pandang raya dan disambut dengan pelukan semangat yang membara.  Mewarnai berakhirnya petang di tengah blokade jalan pandang raya.

*Hingga saat ini warga masih terus bersiaga akan datangnya ancaman. Semoga kekuatan dan perlawanan selalu bersemayam di Pandang raya.

Karena tanah untuk warga bukan untuk kapital!!

(Partisipan solidaritas Pandang Raya)

PARATA : Berbicara Tentang Langkah Aksi Menuntut Hak

Tags

, ,

Proses belajar warga kali ini lebih hangat dari biasanya, kalau bisa dibilang sangat panas. Sehari sebelum pertemuan malam ini, Selasa 25 september 2012, warga dikagetkan dengan berita kecelakaan kerja pembangunan hotel yang berdempetan dengan salah satu rumah warga.

Kejadiannya berlangsung pada hari selasa sekitar pukul dua dini hari. Campuran semen dan pasir material bangunan jatuh dan menimpa salah satu rumah warga di sekitar pembangunan hotel, kecelakaan ini menghancurkan atap rumah dan alat-alat elektronik serta menimpa salah satu penghuni rumah tersebut. Walaupun korban hanya mendapatkan luka-luka ringan tapi kejadian ini menghasilkan trauma tersendiri dan mengganggu kenyamanan warga sekitar.

Sebelumnya, warga sudah mengeluh dengan adanya pembangunan hotel yang telah mencapai tujuh tingkat ini. Kegaduhan yang dihasilkan dari kerja yang melewati batas jam kerja, serta ancaman pembangunan yang akan menghasilkan pembangunan lainnya telah membuat warga tidak nyaman. Selain itu, pembangunan hotel tersebut tidak melewati izin dari warga sekitar dan tidak memenuhi standar keamanan kerja.

Pada saat kejadian, warga serempak mendatangi tempat kejadian dan melakukan protes dengan melempari dan menghalangi mobil pengangkut semen. Sontak proses pembanguan dihentikan hari itu. Kejadian tersebut membuat warga yang selama ini telah resah membahasnya di pertemuan PARATA.

Warga bereaksi dengan melakukan konsolidasi aksi dan mendiskusikan masalah pembangunan hotel tersebut di PARATA. Warga menganggap pembangunan hotel tersebut adalah salah satu contoh kecil dari penghancuran hak-hak warga, seperti hak untuk hidup nyaman dan aman yang selama ini dibahas dibeberapa pertemuan sekolah PARATA.

Warga bersepakat untuk melakukan protes dengan mendatangi Lurah, RT/RW serta pihak Hotel dengan membawa beberapa tuntutan yaitu ;

  1. Menunda proses pembangunan sebelum tuntutan ganti kerusakan rumah yang tertimpa material bangunan dipenuhi,
  2. Membatasi jam kerja yang sebelumnya jam kerja dimulai pagi sampai dini hari harus diubah hanya sampai pada sore hari, dan
  3. Mempertanyakan kembali standar keamanan proses pembangunan.

Pertemuan PARATA kali ini ditutup dengan rencana protes dan persiapan perangkat aksi untuk esok harinya.

Poster : Pandang Raya Tidak Akan Menyerah

Tags

, , ,

Kami membuat sepasang poster untuk membantu mengabarkan perlawanan warga Pandang Raya ke lebih banyak mata dan telinga, dan untuk menggalang solidaritas dari sesama warga. Kita tidak bisa berharap pada kebaikan hati pejabat, polisi dan para pengusaha. Satu-satunya cara yang efektif adalah solidaritas dari sesama. Silahkan di-download, disebar, cetak, dan tempelkan di tempat-tempat strategis.

 

Download disini

Apabila anda menempelnya di ruang-ruang publik atau tempat lain, atau membuat kampanye lain terkait perjuangan warga melawan penggusuran (aksi demonstrasi, grafiti/stencil, postering, dll), kirimkan berita/fotonya kepada kami dan biarkan seluruh dunia terkabari…!

Solidaritas!